Berkat Imbal Hasil Obligasi, Dolar AS Melejit

Sabtu 27 Februari 2021 08:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 27 320 2369260 berkat-imbal-hasil-obligasi-dolar-as-melejit-ZA2ykv8fql.jpg Dolar AS Menguat (Foto: Okezone.com)

NEW YORK - Dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Indeks dolar naik 0,59% menjadi 90,847 atau berada pada level tertinggi dalam seminggu.

Dolar AS menguat karena kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang bertahan di dekat level tertinggi satu tahun. Sementara mata uang berisiko seperti dolar Aussie melemah.

Baca Juga: Dolar AS Balik Menguat karena Kenaikan Imbal Hasil Obligasi

Imbal hasil (yields) melonjak seiring percepatan laju vaksinasi secara global dan optimisme atas peningkatan pertumbuhan global mendukung taruhan bahwa inflasi akan meningkat. Hal itu juga menyebabkan investor menilai pengetatan moneter lebih awal daripada yang diisyaratkan oleh Federal Reserve dan bank-bank sentral lainnya.

"Pergerakan dolar fungsi dari apa yang terjadi di sisi imbal hasil. Imbal hasil 10-tahun sempat naik di atas hasil dividen S&P 500," ujar Kepala Strategi Valas CIBC World Markets, Jeremy Stretch, dikutip dari Antara, Sabtu (27/2/2021).

Baca Juga: Dolar AS Lesu Imbas Sikap The Fed Pertahankan Suku Bunga

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun melonjak di atas 1,6% pada Kamis (25/2/2021) untuk pertama kalinya dalam setahun. Hal ini tertinggi setelah lelang surat utang tujuh tahun yang lemah.

Kenaikan imbal hasil tersebut pun membuat dolar menguat. Bahkan terhadap yen, dolar AS menyentuh 106,69 untuk pertama kalinya sejak September.

Sementara itu, mata uang berisiko seperti Aussie jatuh 1,99% menjadi USD0,7713 setelah melampaui USD0,80 pada Kamis untuk pertama kalinya sejak Februari 2018.

Euro juga merosot 0,79% menjadi USD1,2078 setelah menyentuh level tertinggi tujuh minggu USD1,2244 pada Kamis (25/2/2021).

Greenback kemungkinan akan terus mendapat keuntungan dari aliran-aliran safe-haven jika selera risiko terus memburuk, dan mata uang negara-negara berkembang mungkin termasuk yang merugi terbesar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini