5 Kesalahan dalam Perencanaan Keuangan yang Harus Dihindari

Fariza Rizky Ananda, Jurnalis · Minggu 16 Mei 2021 19:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 16 622 2410703 5-kesalahan-dalam-perencanaan-keuangan-yang-harus-dihindari-NGZRmjibl3.jpeg Tips Mengelola Keuangan (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Tidak jarang orang membutuhkan perencana atau konsultan keuangan profesional karena mengalami masalah dalam keuangannya. Ada banyak kesalahan yang biasa dilakukan orang dalam pengaturan penggunaan uang. Bukan karena tidak punya uang, tapi dia salah dalam menggunakannya.

Ada baiknya orang harus memahami dan belajar kesalahaan dalam pengelolaan keuangan, sehingga dia bisa mencegah terjerumus di lubang yang sama. Jika sudah terlanjur mengalami masalah, mendeteksi secara dini bisa menghindari dampak yang lebih besar.

Berikut penjelasan mengenai masalah dan kesalahan apa saja yang biasa dilakukan banyak orang dalam pengaturan dan pengelolaan keuangan, dikutip dari buku 10 Langkah Menjadi Financial Planner Untuk Diri Sendiri Khusus Karyawan karya Lutfi Trisandi Rizki dan Iin Susanto, Minggu (16/5/2021).

Baca Juga: Trik Mengatur Pengeluaran Selama Pandemi, Tetap Bisa Nabung Kok! 

1. Menganggap Perencanaan Keuangan Itu Tidak Penting jika Gaji Kecil

Banyak karyawan yang merasa gajinya kecil atau pas-pasan, sehingga menganggap lalu perencanaan keuangan, karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mereka merasa pas-pasan bahkan kurang.

Perencanaan keuangan sebenarnya tidak hanya bisa dilakukan oleh karyawan bergaji besar. Justru yang gajinya kecil atau pas-pasan yang harus melakukan perencanaan keuangan dengan baik, alhasil gajinya bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan keluarga. Sekecil apapun pengeluaran, hal itu bisa berdampak terhadap kondisi keuangan di masa depan sehingga harus diperhatikan.

2. Menabung Tanpa Tujuan dan Tidak di Awal

Menabung adalah hal penting yang harus dilakukan dalam merencanakan keuangan. Namun, banyak orang yang menganggap menabung jadi hanya kebiasaan saja, tidak ada tujuan khusus ketika seseorang menabung.

Ketika menabung tanpa tujuan, orang hanya menabung sisa-sisa uang saja dan jadi tidak termotivasi untuk menabung secara rutin dan konsisten. Sehingga jika ditetapkan sebuah tujuan yang jelas, orang bisa lebih bersemangat untuk menyisihkan pendapatan di awal.

3. Dana Darurat = Tabungan

Dalam perencanaan keuangan, dana darurat adalah dana wajib yang berguna untuk keperluan di luar dugaan. Namun, hal ini berbeda dengan tabungan pada umumnya. Menggunakan tabungan untuk kebutuhan mendadak memang tidak salah, namun kurang tepat karena hal tersebut seharusnya fungsi dari dana darurat.

Dana darurat harus terus terisi dalam jumlah tertentu, minimal 6 kali total pengeluaran per bulan untuk karyawan single, dan 12-15 kali pengeluaran bagi yang sudah berkeluarga atau memiliki tanggungan. Sementara tabungan untuk memenuhi kebutuhan yang sudah direncanakan, misal untuk membeli sesuatu atau berlibur, dan tidak wajib diisi kembali.

4. Tabungan = Investasi

Banyak orang yang tidak bisa membedakan penggunaan instrumen investasi dan tabungan dalam merencanakan keuangan. Investasi seperti reksadana atau saham dapat digunakan untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang di atas 5 tahun. Sementara tabungan digunakan untuk tujuan keuangan jangka pendek yang umumnya di bawah 1 tahun.

5. Investasi = Judi

Banyak orang yang tidak mau berinvestasi, khususnya reksadana dan saham, karena menyamakan hal itu dengan judi. Padahal investasi di bidang reksadana dan saham sama saja dengan investasi lainnya, seperti berdagang. Keduanya sama-sama mengandung ketidakpastian.

Hanya saja dengan investasi, orang tidak terjun langsung dalam kegiatan berdagang. Dia hanya sebagai penyedia dana atau pemberi modal. Berdagang dan investasi sama-sama memiliki potensi keuntungan dan kerugian.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini