Ini Sederet Tantangan Pengembangan Pembangkit Listrik EBT

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Senin 02 Agustus 2021 17:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 02 320 2449709 ini-sederet-tantangan-pengembangan-pembangkit-listrik-ebt-6Prtmj0DMw.jpg Pengembangan Energi Terbarukan (Foto: Okezone/BUMN)

JAKARTA - Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang bisa menjadi potensi besar untuk pengembangan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT). Potensi besar cadangan EBT yang dimiliki Indonesia berupa panas bumi, angin, surya hingga energi arus laut.

Senior Manager Corporate Ratings Division Pefindo Martin Pandiangan mengatakan, pembangkit listrik EBT memiliki risiko paling rendah karena dari sisi pembangunan atau konstruksi relatif lebih sederhana. Hal ini terlihat pada panel surya yang sudah dipasang di banyak atap-atap rumah penduduk. Namun risiko dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) adalah faktor kapasitas.

Baca Juga: RI Punya 'Harta Karun' Energi Terbesar Nomor 2 di Dunia

"Artinya sinar matahari tidak dapat beroperasi selama 24 jam. Terlebih kalau ada cuaca mendung khususnya di musim hujan. Jadi memang faktor kapasitasnya tidak bisa terlalu diandalkan," ujarnya dalam Market Review IDX Channel, Senin (2/8/2021).

Baca Juga: 8 Jurus RI Kembangkan Energi Terbarukan

Di sisi lain, biaya untuk PLTS masih cukup tinggi yaitu sekitar USD6 - USD10 sen/kWh. Padahal biaya pembangkitan PLTU hanya berkisar antara USD5 - USD7 sen/kWh. "Namun kami meyakini bahwa ke depannya biaya PLTS akan turun sekitar USD3 sen/kWh seiring dengan perkembangan teknologi," imbuhnya.

Dia melanjutkan, risiko lain dari PLTS adalah kebutuhan lahan yang luas untuk meningkatkan kapasitas. Sementara Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), risikonya berasal dari kontur tanah serta keterbatasan air. "Jadi debit air perlu dipertimbangkan. Sedangkan dalam tahap operasionalnya, PLTA relatif lebih aman," ungkapnya.

Untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), risikonya dari eksplorasi dan konstruksi yang membutuhkan waktu 6-7 tahun di awal pembangunan dengan biaya investasi yang tidak sedikit. "Di sisi lain, ada ada keterbatasan institusi finansial untuk membiayai proyek-proyek pembangkit tenaga listrik panas bumi tersebut," jelas Martin.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini