JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki peluang besar untuk mencetak sejarah baru dengan menembus level psikologis 10.000 pada tahun ini. Pasalnya, struktur pasar saham dalam negeri telah mengalami transformasi signifikan.
Jika sebelumnya pergerakan indeks sangat bergantung pada aliran dana investor asing, saat ini kekuatan investor domestik terbukti mampu menjaga stabilitas pasar.
"Ya, arah indeks kita masih cukup yakin level 10 ribu bisa kita tembus di tahun ini, bahkan bisa melebihi level tersebut. Kemudian pasar saham kita itu berubah ya. Dulunya kita sangat mengekor asing. Tahun lalu itu kita lihat asing rajin sekali jualan di pasar kita, tapi buktinya IHSG kita tidak rontok sama sekali," ungkap praktisi pasar modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, Sabtu (24/1/2026).
Ketahanan IHSG menghadapi aksi jual asing di masa lalu menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap sentimen global mulai berkurang. Hans menegaskan, kemandirian pasar ini merupakan sinyal positif bagi pertumbuhan jangka panjang.
"Jadi ini bisa kita lihat bahwa pasar kita ini tidak lagi sangat tergantung pada asing. Kita bergerak independen terhadap asing, sehingga tidak bisa dikatakan bahwa pasar kita sangat terpengaruh oleh asing," tambahnya.
Untuk mencapai target level 10.000, Hans Kwee menyoroti sejumlah sektor dan emiten pilihan yang diprediksi akan menjadi motor penggerak indeks.
Sektor perbankan berkapitalisasi besar (big caps) dan konsumsi dinilai masih sangat menarik, didampingi oleh sektor komoditas yang menunjukkan potensi kebangkitan.
Hans Kwee merekomendasikan saham big caps seperti BBCA, ASII, dan TLKM. Untuk sektor konsumsi, ia menyebut CMRY, MYOR, MAPI, ICBP, dan AMRT.
Sementara itu, untuk emiten emas terdapat ANTM, BRMS, ARCI, dan MDKA. Adapun sektor batu bara dan pertambangan meliputi ITMG, AADI, PTBA, ADMR, dan ADRO.
Khusus sektor emas dan pertambangan, Hans melihat potensi yang masih cukup solid seiring dengan dinamika harga komoditas global.
"Target tadi ya, kita cukup yakin IHSG ke 10 ribu. Kemudian emas seperti ANTM, BRMS, ARCI, MDKA masih cukup bagus. Ada juga potensi kebangkitan di batu bara seperti ITMG, AADI, PTBA, kemudian mining seperti ADMR dan ADRO. Itu menurut kami masih menarik," pungkas Hans Kwee.
Prediksi ini memberikan angin segar bagi para investor domestik untuk terus berpartisipasi dalam penguatan pasar modal nasional, didukung oleh fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kokoh di tengah tantangan global pada 2026.
(Feby Novalius)