Iqbal menggarisbawahi tiga faktor utama penyebab badai PHK ini. Pertama, konflik geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang melambungkan harga BBM industri. Kedua, anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS yang menyebabkan ongkos produksi membengkak karena mayoritas bahan baku masih mengandalkan impor. Ketiga, lesunya pasar global yang memukul kinerja ekspor Indonesia.
Ancaman pemutusan hubungan kerja massal diprediksi masih akan membayangi para buruh dalam beberapa bulan ke depan. KSPI mencatat adanya potensi ribuan pekerja yang terancam kehilangan mata pencaharian jika kondisi makro ekonomi tidak segera menunjukkan perbaikan.
"Dalam tiga bulan ke depan, diperkirakan gelombang PHK masih terus berlanjut di sepuluh perusahaan lintas provinsi dengan potensi 9.000 buruh terdampak karena faktor kenaikan BBM industri dan harga bahan baku impor yang melambung," tegas Said Iqbal.
KSPI tengah memperluas pendataan di wilayah Jawa Tengah, khususnya pada sektor tekstil dan garmen yang juga mulai menunjukkan tanda-tanda serupa. Said Iqbal memperingatkan bahwa jika stabilitas ekonomi dan daya beli tidak segera dipulihkan, efisiensi yang dilakukan perusahaan-perusahaan ini hanyalah awal dari gelombang penutupan pabrik yang lebih besar.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.