"Listrik itu sebetulnya merupakan nyawa buat ayam. Jadi ketika listrik ini padam, ya kami memang tetap memiliki genset. Hanya saja PLN ini kan tidak konsisten, tidak memberikan jadwal yang tegas kapan itu dimatikan. Ditambah lagi durasi pemadaman itu yang begitu lama," ujarnya.
Meski memiliki generator set (genset), alat tersebut hanya dirancang sebagai sumber listrik cadangan. Pemadaman yang berlangsung berjam-jam membuat genset harus bekerja terus-menerus hingga mengalami kerusakan. Akibatnya, suplai udara di dalam kandang terhenti sehingga ribuan ayam mati karena kekurangan oksigen.
Ia mengaku kerugian yang dialami peternak telah mencapai ratusan juta rupiah. Bahkan, satu kandang berkapasitas sekitar 40 ribu ekor ayam disebut dapat mengalami kerugian hingga Rp360 juta.
"Kalau ayam sudah mati, sudah enggak bisa kita jual. Siapa yang mau beli ayam mati?" katanya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.