Secara konsolidasi, ekspansi bisnis BRI ditopang oleh pertumbuhan aset serta penyaluran kredit yang melaju pesat pada separuh pertama tahun ini. Total aset perseroan berhasil menembus Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan penyaluran kredit yang melonjak 16,2 persen yoy hingga mencapai Rp1.646 triliun.
Laju ekspansi tersebut disokong oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terakumulasi sebesar Rp1.581 triliun, atau tumbuh 6,7 persen yoy. Pertumbuhan operasional ini turut mendorong kenaikan Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) sebesar 9,9 persen yoy dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun, serta mengerek Pre-Provisioning Operating Profit (PPOP) tumbuh 12,8 persen yoy hingga menyentuh angka Rp65,7 triliun.
Hery turut memberikan gambaran terkait kondisi makro perbankan nasional yang dinilainya tetap solid dan resilien hingga pertengahan tahun 2026.
Secara industri, penyaluran kredit nasional tercatat tumbuh 12,7 persen yoy dengan pertumbuhan DPK sebesar 10,2 persen yoy. Rasio Loan at Risk (LAR) perbankan nasional berhasil mengalami penurunan dari 8,9 persen pada triwulan I-2026 menjadi 8,5 persen pada triwulan II-2026.
Selain itu, likuiditas industri berada dalam kondisi yang memadai dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 88,3 persen, serta tingkat ROA industri yang terjaga kuat pada level 2,5 persen.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.