Share

Buka Usaha Pakai Uang Pesangon Jangan Sampai Terbawa Nafsu

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 20 Juli 2020 14:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 20 320 2249170 buka-usaha-pakai-uang-pesangon-jangan-sampai-terbawa-nafsu-rSyH6FoFX9.jpeg Ilustrasi Tips Memulai Bisnis (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Pandemi virus Corona membuat banyak perusahaan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada karyawannya. Mengingat, perusahaan mencoba untuk menyeimbangkan cash flow-nya imbas pandemi virus Corona.

Bagi masyarakat yang sudah terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pengelolaan uang menjadi hal yang sangat penting. Karena jika tak dikelola dengan baik, maka uang pesangon akan habis sebelum mendapatkan pekerjaan kembali.

Baca Juga: Milenial Diajak Jadi Wirausaha, Ada 3 Peluang Usaha di Tengah Pandemi

Oleh karena itu, untuk bisa survive dari situasi pasca PHK, memang yang paling penting adalah bagaimana membuka usaha. Karena dengan membuka usaha kembali bisa memiliki penghasilan kembali meskipun jumlahnya tak sebesar saat bekerja.

Namun, modal yang dikeluarkan untuk modal usaha juga harus diperhatikan. Jangan sampai terlalu besar agar tak mengganggu pengeluaran dan jangan terlalu kecil sehingga tidak menghambat rencana untuk memulai bisnis.

Baca Juga: 4 Tips Memulai Bisnis Frozen Food, Jangan Lupa Promosi

Lantas berapa sih alokasi yang tepat untuk digunakan untuk memulai usaha? Perencana Keuangan Andi Nugroho mengatakan untuk memulai usaha bisa dilakukan dengan membagi pengeluaran untuk dua pos saja.

Pertama adalah untuk pos pengeluaran kebutuhan sehari-hari, dan yang kedua adalah untuk modal usaha. Adapun persentasenya, 70% untuk kebutuhan sehari-hari, dan 30% lagi untuk modal usaha.

Sebagai gambaran, jika mendapatkan uang pesangon sebesar Rp100 juta, maka Rp70 juta untuk kebutuhan sehari-hari dan Rp30 juta untuk modal usaha. Atau jika mendapatkan uang pesangon Rp50 juta, artinya Rp35 juta untuk kebutuhan sehari-hari dan Rp15 juta untuk kebutuhan modal usaha.

"Kalau saran saya maksimal 30% dulu ya itu saja untuk modal usahanya karena 70% prioritasnya untuk kebutuhan sehari hari. Dari 30% dulu diputerin dulu," ujarnya saat dihubungi Okezone, Senin (20/7/2020).

Menurut Andi, jika nantinya bisnis menghasilkan, ada baiknya tetap mengalokasikan anggarannya sebesar 30%. Hal tersebut untuk menghindari kerugian yang besar jika suatu saat bisnis tidak lagi berjalan mulus.

Baca juga;  Keuntungan Lembur saat Weekend, dari Ketenangan hingga Hemat

"Kalaupun menghasilkan tetap 30%. Karena risikonya terlalu besar. Misalnya 30% mutar-mutar. Kadang kan kita jadi nafsu. Kalau modalnya lebih gede lagi tambah inject modal lagi hasilnya bisa lebih gede lagi. Kadang kita nafsu di situ," jelasnya.

Menurut Andi, selama yang bersangkutan belum mendapatkan penghasilan atau pekerjaan lain, maka alokasi modal usaha jangan terlalu besar. Sehingga ketika situasi dan bisnis sudah stabil dan sudah memiliki pekerjaan baru barulah bisa berpikir untuk memperluas bisnis.

"Saran saya sih selama masih kondisinya apalagi kalau kita masih menganggapnya usaha sampingan gitu kan sambil cari kerja. Mending tetap stay di angka 30% tadi. Dan selebihnya baru digunakan untuk kebutuhan sehari-hari," kata Andi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini