“Yang harus dilihat adalah fundamental. Jangan melenceng dari fokus. Market membutuhkan jati diri pelaku pasar Indonesia yang memiliki daya juang tinggi untuk membantu agar pasar pulih dan bangkit lagi,” tegasnya.
Beberapa sektor masih menjadi perhatian pelaku pasar. Di sektor perbankan, misalnya, meskipun ada “ketakutan yang menular” di kalangan pelaku pasar, saham-saham bank besar masih dinilai relatif defensif karena ditopang likuiditas dan profitabilitas yang stabil. Begitu juga sektor lainnya seperti telekomunikasi.
Di sektor energi dan utilitas, sejumlah analis masih melihat peluang pada emiten yang memiliki infrastruktur strategis dan posisi pasar yang kuat. Salah satunya adalah PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
Analis Bahana Sekuritas Abdusshomad Cakra Buana dalam risetnya menerangkan bahwa fundamental bisnis PGAS kian solid seiring potensi tambahan keuntungan bersih dari anak usaha, yaitu Saka Energi, yang bergerak di hulu migas seiring kenaikan harga minyak dunia. Laba inti PGAS sampai akhir tahun ini diperkirakan tumbuh setidaknya 3 persen menjadi USD332 juta secara year on year (YoY).
”Kami tetap merekomendasikan PGAS karena cerita pertumbuhannya masih solid,” ungkapnya.
Saham PGAS direkomendasikan BELI (BUY) dengan target price (TP) sebesar Rp2.300 per saham. Mulai beroperasinya infrastruktur pipa gas Cisem II pada April 2026 diproyeksikan akan meningkatkan pasokan gas ke Jawa Barat sehingga mendukung tambahan volume distribusi.