Perhatian pasar selanjutnya kini tertuju pada data ketenagakerjaan AS yang diharapkan dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan The Fed dengan data klaim pengangguran mingguan (Initial Jobless Claims) yang akan dirilis malam ini, diikuti oleh data Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis hari Jumat besok.
Dari sentimen dalam negeri, Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 sebesar 5,47 persen (yoy) menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik masih cukup kuat dan mengalami perbaikan dibandingkan kuartal II-2026 yang tumbuh 5,29 persen.
Kenaikan ini mengindikasikan konsumsi masyarakat, aktivitas usaha, investasi, dan belanja pemerintah masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi.
Jika dibandingkan dengan kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen, pertumbuhan ekonomi masih menunjukkan perlambatan secara keseluruhan. Artinya, pemulihan ekonomi belum sepenuhnya merata dan masih perlu didukung oleh peningkatan daya beli masyarakat serta investasi sektor swasta.
Namun, pasar tetap akan mencermati kualitas pertumbuhan, terutama daya beli masyarakat, inflasi, nilai tukar rupiah, dan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal. Jika pertumbuhan terus terjaga tanpa tekanan inflasi yang tinggi, hal ini dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Selain itu, penambahan anggaran subsidi dan kompensasi energi menjadi Rp500 triliun pada 2026 dinilai dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Dengan subsidi yang lebih besar, pemerintah berupaya menahan kenaikan harga BBM, listrik, dan energi lainnya agar tidak langsung membebani masyarakat. Kebijakan ini penting di tengah kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya impor energi.
Oleh karena itu, tambahan subsidi berpotensi menjaga konsumsi rumah tangga dan menahan tekanan inflasi dalam jangka pendek. Dari sisi fiskal, investor perlu mencermati peningkatan beban APBN karena semakin besar subsidi energi, semakin terbatas ruang anggaran pemerintah untuk belanja produktif dan pembangunan.
“Jika harga minyak dan pelemahan rupiah terus berlanjut, risiko pelebaran defisit anggaran juga perlu diperhatikan,” kata Ibrahim.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.080-Rp18.130 per dolar AS.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.