Erick Thohir Ingin Batasi Penerbangan Maskapai Asing

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Kamis 03 Juni 2021 20:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 03 320 2419772 erick-thohir-ingin-batasi-penerbangan-maskapai-asing-fEANRBpdYB.jpg Menteri BUMN Erick Thohir. (Foto: Okezone.com/BUMN)

JAKARTA - Kebijakan open sky atau pasar terbuka bagi industri penerbangan internasional pada beberapa bandar udara akan dibatasi. Keputusannya dibahas antara Kementerian BUMN dan Kementerian Perhubungan.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, tidak semua bandara di Indonesia bisa melayani rute penerbangan internasional.

"Alhamdulillah kita sudah berbicara dengan Menteri Perhubungan dan beliau mendukung bagaimana nanti bandara-bandara di Indonesia tidak bisa semuanya menjadi bandara yang menerapkan kebijakan bersama, membuka wilayah udara di Indonesia, termasuk untuk maskapai asing atau open sky," ujar Erick dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR Kamis (3/6/2021).

Baca Juga: Cegah PHK Massal, Kemnaker Panggil Garuda dan Sriwijaya Air

Pemberlakuan kebijakan tersebut didasarkan pada pandemi Covid-19. Dengan pembatasan open sky, maka ditargetkan sebanyak 20 bandara di daerah yang menjadi pasar Garuda Indonesia dan maskapai penerbangan swasta lainnya.

"Ini kesempatan bagi kita untuk sinkronisasi dengan kementerian-kementerian lainnya, kalau beberapa titik atau bandara yang dibuka untuk open sky, maka dari bandara tersebut Garuda Indonesia bisa menyebar ke 20 kota di Indonesia," katanya.

Mantan Bos Inter Milan itu menilai, kebijakan serupa sudah diterapkan di beberapa negara, terutama China dan Amerika Serikat. "Kita mau ke Amerika Serikat juga hanya beberapa bandara yang dibuka untuk penerbangan asing, tidak semua kota. Begitu juga di China seperti itu," tutur dia.

Baca Juga: Garuda Indonesia Ditargetkan Bisa Restrukturisasi Utang hingga Rp21,4 Triliun

Kementerian BUMN akan memfokuskan rute penerbangan Garuda Indonesia dan Citilink di pasar domestik. Langkah itu seiring dengan ceruk pasar domestik yang dinilai potensial.

Upaya tersebut pun sudah dibicarakan dengan manajemen PT Garuda Indonesia (Persero) sejak Januari 2019 atau sebelum pandemi merebak di Indonesia. Erick Thohir mencatat, data penerbangan saat ini didominasi oleh penumpang domestik.

Di mana, 78% penumpang menggunakan jasa pesawat untuk bepergian antar pulau. Untuk biaya, sebanyak Rp 1.400 triliun dikontribusikan oleh turis lokal. Sedangkan 22 persen atau sekitar Rp300 triliun berasal dari turis mancanegara.

“(Kontribusi) Lokal turis itu mencapai Rp1.400 triliun, sedangkan turis asing hanya 22 perse atau sekitar Rp300 triliun. Kalau kita berbisnis ya jelas ini marketnya karena Indonesia juga negara kepulauan,” ujar Erick di Gedung Kementerian BUMN, Rabu (2/5/2021).

Pemegang saham menilai, langkah tersebut merupakan terobosan paling realistis untuk menyelamatkan industri penerbangan pelat merah. Sebab, kedua maskapai tersebut mempekerjakan setidaknya 1.300 pilot dan awak kabin serta 2.300 pegawai.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini